Tugasnya sebagai bagian dari deret kehidupan memang tak bisa dilepas begitu saja di tengah jalan. Karena memang ia terbentuk dari kehidupan itu sendiri. Dan hujan tak pernah berniat untuk menyengsarakan manusia yang ditunjuk sebagai pemimpin di Bumi.
Sebagai bagian dari deret kehidupan, hujan terbentuk dari kumpulan awan yang membawa air dari Bumi. Saat air itu sudah melebihi batas kemampuan awan, maka awan akan menyelesaikan tugasnya. Ia melepas air yang ia terima dari Bumi.
Proses ini lah yang tak bisa ditolak oleh siapa pun, begitu pun oleh manusia. Dan manusia yang menolak hujan, semoga ia diberi kesehatan dan kesadaran pikiran untuk mencintai hujan. Apa pun yang terjadi setelahnya.
Pagi hingga siang tadi, awan memang terlihat sudah kelebihan muatan, dan aku sadari itu saat menempuh perjalanan ke Banjarnegara. Tapi ada keindahan diantara awan-awan yang berlebih muatan itu. Sebagian langit di utara Purwokerto tetap cerah, begitu pulan di pesisir pantai di Cilacap Timur. Cerah berawan.
Dalam benak, memang terlintas sedikit tebakan, sore nanti pasti hujan. Dan itu pun aku sadari sebagai proses alam. Bagian dari kehidupan.
Benar saja, saat perjalanan pulang, hujan lebat mengguyur Banjarnegara Barat sampai perbatasan Purbalingga. Hujan lebat ini mungkin merata di sebagian wilayah Indonesia. Ditemani kekasih, hujan lebat ini aku terjang. Kesepakatan telah ditetapkan, berteduh pun punya konsekuensi, pulang malam hari. Belum basah yang mengancam seperti saat ini.
Hanya saja, terasa amat sangat aneh ketika aku membaca sebuah artikel di sebuah situs berita populer di Indonesia. Sebuah artikel yang menyalahkan hujan. Akibat banjir dan segala kerugian setelahnya. Atau sebuah artikel yang kesannya, hujan itu tidak menyebabkan bajir. Dan yang lebih mengesalkan, tanggungjawab atas banjir dilemparkan kepada salah satu manusia. Itu sangat memojokkan hujan, sangat terkesan hujan tidak bertanggung jawab untuk banjir yang telah dibuatnya.
Hujan hanya melakukan tugasnya. Hujan hanya sebuah kejadian alam yang terbentuk tanpa dipaksa. Apalagi kejadian yang selalu menyengsarakan manusia.
Hujan hanya bagian kehidupan yang diciptakan Tuhan. Manfaat dan akibat yang timbul pasti ada. Dan kita sebagai manusia sudah dibekali akal untuk menanggulanginya. Marilah kita gunakan akal yang ada di hati dan otak kita. (Kita perlu tahu, akal itu tidak hanya ada di otak saja).
Salam hangat untuk hujan :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar