Jumat, 16 Agustus 2013

Mengayuh Mimpi #5

Aku menempuh pendidikan sekolah tingkat atas di sebuah SMK yang terkenal dengan siswa perempuannya yang sangat dominan. Dengan 95% siswa di sekolah ini perempuan, sudah lebih dari cukup untuk menamai sekolah ini “Sekolah Perempuan”. Dan aku ada di  sekolah ini dengan terpaksa. Sebuah pilihan sulit saat sekolah perempuan ini menjadi satu-satunya pilihan sekolah lanjutan saat aku lulus dari SMP terfavorit di kota ini. Dan jika aku menolak masuk sekolah ini, berakhir sudahlah ijasah terakhirku dengan ijasah SMP. Dan tentu aku tak mau. Dengan ijasah SMP favorit saja, aku tak cukup untuk mengejar cita-citaku.

SMK Perempuan ini memiliki tiga jurusan yang memang perempuan banget, Akutansi, Administrasi Perkantoran, dan Penjualan. Setelah dengan berat hati memilih sekolah ini, aku dihadapkan dengan pilihan jurusan yang amat sangat sulit. Akutansi, sebuah jurusan yang fokus pada angka-angka dan laporan keuangan. Administrasi Perkantoran, sebuah jurusan yang pelajaran produktifnya tentang surat dan tetekbengek tentang administrasi. Penjualan, dan inilah jurusan yang fokus menghasilkan alumni dengan pengalaman wirausaha, karena kegiatan belajarnya banyak praktek tentang berjualan produk. Dan aku pilih masuk jurusan Akutansi. Kata kakak perempuanku yang duduk di kelas tiga jurusan Administrasi Perkantoran, jurusan Akutansi adalah jurusan favorit disekolah ini. Dan secara urutan nilai ujian, inilah jurusan yang otomatis aku dapatkan.

Oh iya, tiga kakak perempuanku sekolah di sekolah perempuan ini. Dua sudah lulus, dan satu masih duduk di kelas tiga. Namanya Atin. Mungkin inilah mengapa aku hanya memiliki satu pilihan sekolah setelah lulus SMP. Karena semua kakak perempuanku bersekolah di sekolah perempuan ini. Dan akulah anak laki-laki pertama yang mengenyam pendidikan sampai tingkat SMA sederajat. Semua kakak laki-lakiku hanya memiliki ijazah SMP saja.

Aku ingat sekali saat pertama kali memasuki area sekolah ini. Dari trotoar depan sekolah hingga pintu masuk gedung, lautan perempuan membuat nyaliku ciut. Bagaimana aku bisa mengumpulkan rasa percaya diri diantara ratusan perempuan? Sedangkan aku seorang anak laki-laki introvert dan miskin rasa pede. Tiba-tiba suara Bapak menggelegar di siang bolong. “Tidak apa-apa kan sekolah disini? Yang penting bisa sekolah sampai SMA”, suaranya sedikit menenangkan suasana hati.


Memasuki gedung sekolah, hati yang baru 5 detik tenang, kini mulai berombak dan diterpa badai. Seluas mata memandang hanyalah perempuan. Perempuan. Perempuan. Perempuan. Dan nyali ini benar-benar diperas sampai kering kerontang. Ribuan pendaftar di sekolah ini semuanya perempuan? “Astaga! Astaga! Astaagaaaa....!!”

Tidak ada komentar: