Aku
kayuh becak tanpa nama ini sekuat tenaga. Beberapa angkutan pedesaan terlihat
berpenumpang anak sekolah. Ternyata waktu berjalan lebih cepat dari perkiraanku.
Mungkin sudah pukul enam. Atau bahkan sudah lebih. Sesekali aku raba kantong
jaket untuk memastikan uang saku pemberian Mama tidak jatuh. Dengan kondisi
buru-buru seperti ini, terkadang kita harus tetap menjaga amanah. Uang saku ini
untuk Wawan, adik laki-lakiku yang paling jagoan. Dan uang saku ini Mama pinjam
dari pedagang sayuran, dan baru akan dibayar saat sudah ada gorengan, bubur
atau pun meniran yang laku terjual.
Aku
ambil jalan pulang lewat jalan protokoler. Selain aspalnya yang rata dan tak
berlubang, jalan ini juga lebih mudah dilalui. Beberapa rombongan sepeda terkadang
melintas dengan senyum atau tawa dari bibir pengendaranya. Waktu sudah semakin
siang. Sinat matahari sudah tampak tinggi, menciptakan bayangan pohon dan
pertokoan. Jalan mulai menurun, dan dua menit kedepan adalah saat melemaskan
kaki sambil mengumpulkan tenaga. Saat becak tanpa nama ini berjalan menurun,
hembusan angin pagi menerpa kulit dengan lembut. Menguapkan keringat dan
memberikan sedikit rasa segar. Apalagi saat angin pagi menerpa kulit leher yang
berkeringat. Dengan kondisi jalan menurun, becak tanpa nama ini berjalan lebih
cepat. Sebuah gedung film berdiri megah dengan area parkir yang sangat luas. Hotel,
perkantoran, dan beberapa dealer kendaraan berjajar dengan gagah. Di ujung
jalan ini, aku kembali berputar mengelilingi tiga per empat taman surga di
persimpangan dekat terminal. Aku arahkan becak tanpa nama ini menuju rumah.
Melibas beberapa polisi tidur kecil, menatap kantong plastik hitam berjalan
pelan di sungai kecil. Sempat terlihat seorang wanita paruh baya membuang
sampah di kebun pisang. Wajahnya tanpa dosa kulihat saat berbalik meninggalkan
tumpukan sampah yang berantakan. Ah, persetan. Aku harus lebih cepat mengayuh
becak tanpa nama ini untuk sampai dirumah.
Jalan
depan rumah telah ramai oleh orang tua yang mengantar anaknya dengan sepeda.
Warung sayur di samping rumah Pak Jaksa pun sudah mulai ramai pembeli. Aku
injak pedal rem dalam-dalam sampai becak tanpa nama ini berhenti di tepi jalan.
Aku turun dengan buru-buru. Wawan sudah menunggu di depan pintu rumah.
Tampaknya ia baru selesai memakai sepatu. Aku ambil uang di saku jaket. “Ini
uang sakunya Wan”, sambil aku turunkan resleting jaket. “Terima kasih mas.
Berangkat dulu ya”. Wawan berjalan sambil tergesa. “Tunggu Yu. Berangkat bareng
ya!” Ia berlari mengejar Bayu, anak Pak Sugeng pengusaha bis Sinar Jaya. Aku
masuk kerumah sambil melepas jaket. Sambil berjalan ke kamar mandi, aku
sempatkan melihat jam dinding. Huff! “Jam enam lewat lima belas”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar