Jumat, 02 Agustus 2013

Mengayuh Mimpi #4

Aku kayuh becak tanpa nama ini sekuat tenaga. Beberapa angkutan pedesaan terlihat berpenumpang anak sekolah. Ternyata waktu berjalan lebih cepat dari perkiraanku. Mungkin sudah pukul enam. Atau bahkan sudah lebih. Sesekali aku raba kantong jaket untuk memastikan uang saku pemberian Mama tidak jatuh. Dengan kondisi buru-buru seperti ini, terkadang kita harus tetap menjaga amanah. Uang saku ini untuk Wawan, adik laki-lakiku yang paling jagoan. Dan uang saku ini Mama pinjam dari pedagang sayuran, dan baru akan dibayar saat sudah ada gorengan, bubur atau pun meniran yang laku terjual.

Aku ambil jalan pulang lewat jalan protokoler. Selain aspalnya yang rata dan tak berlubang, jalan ini juga lebih mudah dilalui. Beberapa rombongan sepeda terkadang melintas dengan senyum atau tawa dari bibir pengendaranya. Waktu sudah semakin siang. Sinat matahari sudah tampak tinggi, menciptakan bayangan pohon dan pertokoan. Jalan mulai menurun, dan dua menit kedepan adalah saat melemaskan kaki sambil mengumpulkan tenaga. Saat becak tanpa nama ini berjalan menurun, hembusan angin pagi menerpa kulit dengan lembut. Menguapkan keringat dan memberikan sedikit rasa segar. Apalagi saat angin pagi menerpa kulit leher yang berkeringat. Dengan kondisi jalan menurun, becak tanpa nama ini berjalan lebih cepat. Sebuah gedung film berdiri megah dengan area parkir yang sangat luas. Hotel, perkantoran, dan beberapa dealer kendaraan berjajar dengan gagah. Di ujung jalan ini, aku kembali berputar mengelilingi tiga per empat taman surga di persimpangan dekat terminal. Aku arahkan becak tanpa nama ini menuju rumah. Melibas beberapa polisi tidur kecil, menatap kantong plastik hitam berjalan pelan di sungai kecil. Sempat terlihat seorang wanita paruh baya membuang sampah di kebun pisang. Wajahnya tanpa dosa kulihat saat berbalik meninggalkan tumpukan sampah yang berantakan. Ah, persetan. Aku harus lebih cepat mengayuh becak tanpa nama ini untuk sampai dirumah.


Jalan depan rumah telah ramai oleh orang tua yang mengantar anaknya dengan sepeda. Warung sayur di samping rumah Pak Jaksa pun sudah mulai ramai pembeli. Aku injak pedal rem dalam-dalam sampai becak tanpa nama ini berhenti di tepi jalan. Aku turun dengan buru-buru. Wawan sudah menunggu di depan pintu rumah. Tampaknya ia baru selesai memakai sepatu. Aku ambil uang di saku jaket. “Ini uang sakunya Wan”, sambil aku turunkan resleting jaket. “Terima kasih mas. Berangkat dulu ya”. Wawan berjalan sambil tergesa. “Tunggu Yu. Berangkat bareng ya!” Ia berlari mengejar Bayu, anak Pak Sugeng pengusaha bis Sinar Jaya. Aku masuk kerumah sambil melepas jaket. Sambil berjalan ke kamar mandi, aku sempatkan melihat jam dinding. Huff! “Jam enam lewat lima belas”. 

Tidak ada komentar: