Kini
kita berjalan ke arah timur di ruas jalan nasional. Kayuhanku semakin mantap
dengan kondisi aspal yang halus dan tanpa polisi tidur. Setelah melewati
Pengadilan Negeri di kanan jalan, aku injak pedal rem sedikit demi sedikit.
Banyak mikrobus dan angkutan pedesaan keluar dari terminal. Beberapa orang
berlarian kearah mikrobus berwarna biru gelap. “Barang ayu! Barang Ayu!”
Beberapa
penjual gorengan dengan gerobaknya masing-masing sedang sibuk melayani pembeli.
Di kota ini, sarapan dengan gorengan merupakan sebuah tradisi. Bahkan sudah
dianggap sebagai kebanggaan oleh beberapa orang, seperti aku. Kombinasi tepung,
bumbu rempah, cabe rawit dan kondisi gorengan yang masih hangat, sangat nyaman
di perut. Apalagi jika dimakan dengan ketupat, lontong maupun meniran yang juga
masih hangat. Sungguh!
Dan
begitu pula dengan sebuah taman berbentuk lingkaran di tengah persimpangan
jalan ini. Dengan patung berwarna tembaga dan beberapa jenis bunga yang
menghiasinya, taman ini seperti taman di surga. Belum lagi ditambah dengan
suasana pagi yang cerah seperti ini, kita semua pasti setuju. Inilah taman
surga.
Melewati
persimpangan ini rasanya seperti melewati persimpangan yang sering aku lihat di
televisi tetangga sebelah. Sebuah persimpangan yang di tengahnya terdapat kolam
yang indah, yang sering ditayangkan di acara berita-berita. Persimpangan tanpa
lampu merah hijau tetapi gerakan setiap kendaraan yang melewatinya sangat
harmonis. Berputar alami dan sekali lagi, sangat harmonis.
Kita
masih berjalan ke arah timur. “Nanti pulangnya nunggu sebentar ya At. Bawa uang
buat sangu”, kata Mama sambil memasukkan beberapa bungkus candil ke kantong
plastik kecil. “Iya Ma”, jawabku singkat. Aku kembali injak pedal rem perlahan,
kita akan belok kiri di persimpangan depan. Beberapa orang tertidur di sebuah
pangkalan ojek, dua orang tampak menghisap rokok sambil matanya menunggu
penumpang turun dari bus. Mereka seakan telah sepakat dengan sebuah perjanjian,
siapa cepat dia dapat.
Becak
tanpa nama ini telah berjalan menghadap utara. Kini hanya sudut mata yang bisa
menikmati suasana langit pagi. Karena ruas jalan ini tidak sehalus jalan
nasional yang tadi kita lewati. Beberapa lubang tampak mengancam siapa pun yang
lewat. Dan aku perhatikan selama dua tahun kebelakang, perbaikan ruas jalan ini
hanya tambal sulam. Beberapa lubang ditambal dan disulam, tetapi muncul lagi
beberapa lubang yang lain.
Mungkin
karena banyak pabrik dan gudang di sepanjang ruas jalan ini, sehingga banyak
kendaraan berat yang menjadi tanggungan si Aspal. Dan kerusakan merupakan
sebuah hal biasa yang timbul setiap harinya. Dan pemerintah kota sepertinya
tidak memiliki anggaran untuk memperbaiki, atau mungkin pabrik-pabrik ini tidak
bayar pajak? Hahahaha, entahlah.
Setelah
melewati persimpangan di ujung ruas jalan ini, kita mulai memasuki sebuah
komplek pertokoan dan pasar burung. Di kanan kiri jalan, cukup rapat oleh
pertokoan dan area parkir kendaraan. Beberapa penjual pakan burung berjejer di
tepi jalan. Saat memasuki komplek pasar burung, pedal rem kembali aku injak
perlahan. Beberapa mobil dipaksa diparkir di pinggir jalan. Angkutan pedesaan
pun tak mau saling mengalah untuk mendapatkan lebih banyak penumpang. Dan
selalu seperti ini, arus lalu lintas selalu berjalan tersendat, bahkan
terkadang berhenti sesaat. Mungkin akan lebih baik jika pasar burung ini
dipindah ke lokasi dengan ruas jalan yang lebih besar.
Setelah
melewati komplek pasar burung ini, kita memasuki komplek kaki lima di dekat
persimpangan besar. Beberapa lapak mulai digelar. Tenda-tenda jualan mulai
didirikan. Beberapa kios tempel juga mulai dibuka oleh pemiliknya. Kios tempel
ini merupakan sebuah kios separuh permanen yang menempel di sebuah tebok. Entah
pemiliknya menyewa dari pemilik tembok, menutup sungai kecil dan berdagang
diatasnya, atau memakan separuh trotoar milik pejalan kaki. Begitu pun dengan
lapak yang telah banyak digelar. Mereka mengusahakan rejeki dengan menutup
sebagian trotoar dengan menjual barang dagangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar