“Ayo
At. Sudah tidak ada yang tertinggal?”, Mama keluar rumah dengan sedikit
berlari. “Sudah Ma.” Aku mengambil posisi disebelah kiri jok. Kaki kiriku
kuletakkan diatas pedal, menahan becak agar tidak terjungkal saat Mama naik.
Dia
ibuku. Seorang wanita hebat yang benar-benar menginspirasi setiap hari. Aku
sebut dia Mama. Tapi terkadang juga aku panggil Mamake. Badannya bisa dibilang
gemuk. Tapi berat badannya tidak mewakili gemuk badannya. Padahal Mama tidak
banyak makan, tetapi tetap saja badannya gemuk.
Aku dorong
becak tanpa nama ke arah timur, setelah beberapa langkah, HAP! Aku naiki becak
ini dan mulai mengayuhnya. Beberapa polisi tidur telah terlewati. Kini aku
belokkan becak tanpa nama ini ke arah kiri. Menuju sebuah jalan yang memiliki
banyak persimpangan.
Persimpangan
pertama. Belok ke kanan akan membawa kita ke Kampung Sri Rahayu. Sebuah kampung
yang cukup dikenal karena keanekaragaman dan latar belakang penghuninya. Becak
tanpa nama tetap berjalan lurus menuju arah Perum DAMRI.
Persimpangan
kedua. Tepat di sudut persimpangan ada sebuah pondok pesantren kecil. Atau
lebih tepatnya pondok mengaji. Ada tulisan yang cukup besar di salah satu
dinding. Anshor. Becak tanpa nama tetap terus lurus ke depan. Melewati sebuah
tempat pembuangan sampah yang sembarangan. Karena jelas, pembuangan sampah ini
dipaksakan di sebuah kebun pisang yang berbatasan dengan beberapa petak sawah. Pedal
becak tanpa nama masih aku kayuh. Sebuah jembatan kecil kulewati. Tak jauh
berbeda dengan kebun pisang tadi, sungai ini dipaksa menjadi tempat pembuangan
sampah oleh masyarakat sekitar. Beberapa sampah rumah tangga mengapung dan
berjalan pelan di sungai yang fungsi awalnya sebagai pengairan sawah.
Persimpangan
ketiga. Jalan ini berdampingan dengan sungai kecil di sebelah kiri. Beberapa
rumah memiliki jembatan sebagai akses menyeberang. Sebuah jembatan besar
menandai sebuah persimpangan. Jika kita belok kiri dan menyeberang jembatan
ini, kita bisa langsung menuju ke sebuah masjid besar berlantai dua yang
satu-satunya di kecamatan ini. Dan diseberang jalan dari masjid dua lantai ini,
sebuah kantor SAMSAT berdiri cukup mewah.
Becak
tanpa nama tetap berjalan lurus melewati beberapa polisi tidur kecil yang cukup
banyak. Polisi tidur kecil ini dibuat agar kendaraan yang lewat mengurangi kecepatannya.
Banyak anak-anak. Sebuah tanda lalulintas dibuat secara tradisional dan
dipasang di tepi jalan.
Persimpangan
keempat. Ada tiga pilihan, belok kiri, lurus atau belok kanan. Jika kita belok
kiri, kita akan masuk ke pemukiman warga yang padat penduduk. Ruas jalannya tak
lebih dari dua meter. Jika lurus, kita akan mengikuti jalan yang selama dua
tahun belakangan ini dilewati becak tanpa nama. Atau kita boleh belok kanan,
dimana kita bisa masuk ke komplek DAMRI, atau ke penginapan BLUE INN. Juga
salah satu akses masuk ke Kampung Sri Rahayu. Kita ambil lurus.
Persimpangan
kelima. Kita telah tiba di ujung jalan. Aku turun dari becak. Sejenak berhenti
menunggu dua mobil dan tiga sepeda motor lewat. Aku menyeberangkan becak tanpa
nama dengan dorongan. Di separuh jalan nasional ini, aku hentikan doronganku.
Kini aku menunggu 2 sepeda motor, kemudian aku dorong kembali becak tanpa nama
ini. Kupercepat doronganku, kemudian, HAP! Aku naiki becak tanpa nama ini dan
langsung kubelokkan ke arah timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar