Hari
ini tetap seperti hari kemarin, dan hari-hari dua tahun ke belakang. Embun pagi
masih selalu menyapa dengan pekat, bercampur dengan dingin yang menusuk tulang.
Daun pohon petai china masih lekat akrab dengan embun. Di kota ini, petai china
dikenal dengan nama Klandingan.
Dengan
sesekali mata terpejam, aku buka gerendel rantai yang mengikat dua becak di
halaman depan rumah. Tangan dan jari ini seakan telah hafal dengan pasangan
kunci dan gemboknya. Setelah gembok terbuka, rantai aku lepas dari becak tanpa nama.
Ya,
benar. Becak ini tanpa nama, berbeda dengan satu becak yang lain di sebelahnya.
Juga berbeda dengan ratusan becak di kota ini. Sudah dua tahun aku berteman
dengan kendaraan tradisional ini. Tapi sama sekali aku tak pernah mengetahui
namanya. Diluar sana, bertebaran nama-nama becak beken dan populer.
Aku
dorong becak tanpa nama ini ke jalan. Dengan halaman rumah lebih rendah dari
jalan, mendorong becak sepagi ini sungguh penuh perjuangan. Terkadang rodanya
menabrak batu, yang membuat arah becak berbelok. Belum lagi dengan mata yang
masih setengah terpejam dan perut kosong seperti ini.
Kali
ini aku beruntung, mendorong becak ini ke jalan berjalan lancar. Aku atur arah
becak tanpa nama ini menghadap timur, menghadap lukisan langit biru yang
terpadu dengan sinar merah kekuningan. Beberapa awan semakin membuat elok
lukisan ini. Huff! Inilah awal hariku yang indah, menikmati suasana pagi
seperti ini.
Aku
kembali kedalam rumah. Aku ambil sebungkus bubur candil hangat dari keranjang
merah muda. Aku rasakan manisnya candil dan segarnya aroma santan di
langit-langit mulutku. Aku putarkan keseluruh penjuru dan sudut mulut. Ini
bukan berkumur, ini adalah cara adil menyapa setiap sudut mulut dengan menu
pembuka sarapan setiap pagi.
Keranjang
merah muda, keranjang hijau muda, rinjing. Semua sudah siap di dalam becak.
Terdengar aneh mendengar kata ‘rinjing’? Rinjing merupakan sejenis keranjang
yang terbuat dari anyaman bambu. Sisi atas berbentuk lingkaran, dan sisi bawah
berbentuk kotak, agar stabil saat di letakkan. Begitulah kira-kira.
Aku
kembali masuk rumah, mengambil dua bakwan dan satu meniran di atas tampah. Aku
makan dengan lahap, lebih menjurus ke cepat. Setelah mempersiapkan becak tanpa
nama, dua keranjang dan satu rinjing, tugas awal telah selesai. Dan saat ini
adalah saat yang harus dimanfaatkan untuk sarapan cepat.
Aku
duduk di atas polisi tidur. Bersebelahan dengan becak tanpa nama. Menghadap
timur. Menikmati sejenak suasana pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar