Selasa, 23 Oktober 2012

MEREKA TAK MENGERTI MAUT KITA


“ Mari kita beri mereka pengetahuan tentang kehidupan kita. “

Jalanan ini terus berubah sampai aku dewasa. Air hujan bercampur tanah, membentuk kubangan lumpur, berwarna coklat. Lampu-lampu yang bergerak lambat, terangnya bertahan lama untuk sekedar menerangi kehidupan di sepanjang jalanan ini.

Atau tentang suara angin yang menggesek rumput-rumput di tepi sungai kecil. Terkadang suaranya bercamput dengan percikan riak air yang menerjang diantara kerikil-kerikil kecil di bagian sungai yang dangkal. Sesekali kicau burung  terdengar melengkapi kicauan alami disini.

Keadaan yang benar-benar aku rindukan. Lebih dari kerinduan akan masa kecilku.

Kini malam telah larut. Sudah saatnya aku bersama teman-teman mencari makan. Sekedar menyambung hidup kami yang terbuang. Bahkan udara hangat pun kami tak punya. Kami berjalan menuju tepian jalan, menatap silau lampu di kejauhan. Silaunya berkelok mengikuti lekuk jalanan.

Kini alam telah berubah, seperti yang kita semua mengerti, bahwa manusia telah berkembang melebihi batas. Alam telah terluka akibat keserakahan. Dan hilangnya sisi alami dari jalan ini adalah luka yang entah ada di urutan berapa.

Mereka mengatasnamakan PEMBANGUNAN. Perubahan demi kesejahteraan dan kualitas hidup manusia.

Yang tak sanggup kami terima, adalah hilangnya kehidupan kami di jalan ini. Jalan sumber kehidupan bagi kami yang telah terpisah dari keluarga. Teman kami jadikan saudara, demi menutup kerinduan akan kasih sayang yang telah hilang.

Tiga ekor katak menyeberangi jalan aspal yang rusak. Lompatan mereka tak sempurna seperti biasanya. Dua sepeda motor datang dari dua arah berlawanan, mendekat ke titik jatuh lompatan tiga katak.

Tidak ada komentar: