“ Mari kita beri mereka pengetahuan tentang kehidupan kita.
“
Jalanan ini terus berubah sampai aku dewasa. Air hujan
bercampur tanah, membentuk kubangan lumpur, berwarna coklat. Lampu-lampu yang
bergerak lambat, terangnya bertahan lama untuk sekedar menerangi kehidupan di
sepanjang jalanan ini.
Atau tentang suara angin yang menggesek rumput-rumput di
tepi sungai kecil. Terkadang suaranya bercamput dengan percikan riak air yang
menerjang diantara kerikil-kerikil kecil di bagian sungai yang dangkal.
Sesekali kicau burung terdengar
melengkapi kicauan alami disini.
Keadaan yang benar-benar aku rindukan. Lebih dari kerinduan
akan masa kecilku.
Kini malam telah larut. Sudah saatnya aku bersama
teman-teman mencari makan. Sekedar menyambung hidup kami yang terbuang. Bahkan
udara hangat pun kami tak punya. Kami berjalan menuju tepian jalan, menatap
silau lampu di kejauhan. Silaunya berkelok mengikuti lekuk jalanan.
Kini alam telah berubah, seperti
yang kita semua mengerti, bahwa manusia telah berkembang
melebihi batas. Alam telah terluka akibat keserakahan. Dan hilangnya sisi alami
dari jalan ini adalah luka yang entah ada di urutan berapa.
Mereka mengatasnamakan PEMBANGUNAN. Perubahan demi
kesejahteraan dan kualitas hidup manusia.
Yang tak sanggup kami terima, adalah hilangnya kehidupan
kami di jalan ini. Jalan sumber kehidupan bagi kami yang telah terpisah dari
keluarga. Teman kami jadikan saudara, demi menutup kerinduan akan kasih sayang yang telah hilang.
Tiga ekor katak menyeberangi jalan
aspal yang rusak. Lompatan mereka tak sempurna seperti biasanya. Dua sepeda
motor datang dari dua arah berlawanan, mendekat ke titik jatuh lompatan tiga
katak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar