Lihatlah, abu Merapi telah sampai ke Bandung. Entah benar entah salah. Mungkin juga abu berasal dari Gunung Papandayan yang mulai aktif sejak seminggu lalu. Atau mungkin juga kiriman angin dari barat, dari Gunung Anak Krakatau yang mulai aktif juga. Setidaknya pulau Jawa tengah terancam dari beberapa pasak bumi yang ada. Mulai dari ujung barat hingga ujung timur, semua gunung aktif sebagai penyangga pulau Jawa mulai bergejolak.
Anak Krakatau, Papandayan, Merapi, Semeru, Bromo. Semua sudah mulai memberikan tanda mual-mual. Jika Merapi hanya awal, kita pantas takut dan waspada. Mungkin saja ini teguran dari Tuhan. Mungkin juga ini isyarat dari Alam. Mungkin juga ini sebuah Hukuman. Atau ini sebuah kesempatan untuk sebuah Pertaubatan.
Setidaknya, kita harus sadar, bahwa hanya gunung-gunung aktiflah yang menjadi mulut Bumi. Jadi, saat Bumi mulai mual dan ingin memuntahkan isi perutnya, kita harus menerima. Mana mungkin kita bisa menolak dan mencegah. Karena semua memang bukan kehendak kita. Kita hanya manusia mahluk Tuhan yang paling seksi. WTF!! Maksudnya mahluk Tuhan yang paling lemah. Hehehehehe.
Jadi, marilah kita mulai sadar diri, sadar akan kekuatan alam, sadar akan ketergantungan kita kepada alam. Mungkin ada beberapa pihak yang menyangkut pautkan bencana-bencana ini dengan KIAMAT 2012. Tapi sebaiknya kita tidak percaya. Karena hanya akan menyempitkan pola pikir dan pandangan kita akan kekuatan Tuhan. Lebih baik, bencana-bencana ini kita gunakan sebagai pelajaran. Bahwa lebih baik kita bersyukur.
Dengan bencana, kita tidak lagi sombong. Dengan bencana, kita kembali sadar akan rasa kemanusiaan. Dengan bencana, kita sadar akan kelemahan kita sebagai manusia. Dengan bencana, kita tahu betapa mahalnya satu nyawa. Dengan bencana, kita sadar bahwa semua manusia bersaudara. Dengan bencana, pintu taubat dibuka seluas-luasnya.
Disinilah. Sekaranglah. Kita harus kembali menjadi manusia yang sesungguhnya. Hilangkan rasa tamak dan rakus. Khususnya untuk anggota dewan yang korupsi ( kalian mirip binatang ). Peace ya Pak Dewan. Bu Dewan. :P
Merapi. Cukup Merapi. Ya, cukup merapi saja, hampir seperempat pulau Jawa merasakan rasa abunya. Di kota pengetik artikel ini, wabah masker ada dimana-mana. Jalanan berdebu, mirip sebuah kota kering. Setiap kendaraan terlihat kumal, kotor. Apalagi kota-kota yang dekat dengan Merapi. Badan penuh abu mungkin sebuah pemandangan yang biasa. Apalagi jika semua gunung di pulau Jawa ikut muntah seperti Merapi. Bisa dibayangkan betapa repotnya masyarakat Jawa. Siapa yang mau menjadi sukarelawan? Apakan orang Sumatra, Kalimantan, atau Papua yang harus menjadi sukarelawan?
Ah, mungkin terlalu hiperbola jika semua gunung aktif di Jawa berbarengan memuntahkan lava pijarnya. Tapi, jika bersamaan tidak mungkin, bagaimana dengan berurutan? Apakah itu sebuah ketidakmungkinan? Bisa saja. Bisa juga tidak. Semua ada waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar