Rabu, 03 November 2010

Resiko Kuliah

Sebuah istilah slang beberapa hari ini selalu dibunyikan oleh indra pembicaraku. Tunggu, adakah indra pembicara? Sepertinya tidak, hehehe. Saya hanya kehabisan akal untuk mengganti kata “mulut”. “RESIKO KULIAH”, inilah kata slang yang beberapa minggu ini lumayan sering mengudara di medan magnet bibirku yang seksi, hehe. Kembali ke judul. Mungkin beberapa mahasiswa hebat akan melakukan konfrontasi atas apa yang menjadi judul dan isi artikel ini. Tapi percayalah, ini demi kemajuan Indonesia.

Saya bukan seorang mahasiswa, karena itulah saya ketik artikel ini. Sebelumnya, saya baca artikel milik Sjarifuddin Josuf, http://luar-negeri.kompasiana.com/2010/11/03/lebih-5000-phd-bekerja-sebagai-janitor-di-usa/. Silahkan baca sendiri, agar kepuasan Anda lebih terasa. Dan memang kenyataan di Indonesia, bahwa lulusan perguruan tinggi rata-rata bekerja tidak sesuai dengan ilmu yang mereka saat kuliah. Beberapa tahun ini memang saya melihat sendiri kenyataan yang ada, dan beberapa minggu ini saya agak disadarkan oleh keadaan. Pacar saya yang mahasiswa, beberapa minggu ini mengeluh banyak tugas, banyak praktek, banyak ini, banyak itu, yang ujungnya tentu memeras otak. Dan kata pertama yang saya keluarkan dari bibir adalah, “Salaeh kuliah, kuwe resikone kuliah” -bahasa jawa ngapak-. “Salah sendiri kuliah, itu resiko kuliah” -bahasa Indonesia-. Apakah saya kejam, semoga tidak.

Ingatlah proses seleksi, proses masuk, proses kuliah, dan proses lulus. Semua proses itu tidaklah mudah. Tidak pula murah. Tak perlu saya hitung harga proses itu untuk Anda, karena Anda pasti lebih tahu. Terlebih lagi, menghitung semua proses itu hanya membuat otak saya membayangkan uang melimpah ruah yang belum pernah saya liat. Jangan sampai saya gila dibuatnya. Hehehe. Dan bagi mahasiswa, harga semua proses itu sangatlah mengandung resiko. Ya, sangat beresiko.

Seorang mahasiswa akan dituntut menyelesaikan kuliah secara normal. Karena biaya proses kuliah tidak murah. Dan jika seorang mahasiswa tidak melakukan proses kuliah dengan baik, yang terjadi adalah penambahan masa kuliah. Yang normalnya 4 tahun lulus, bisa sampai 6, bahkan 8 tahun. Dan setelah diberi toga, dan diwisuda, resiko didepan yang dihadapai jauh lebih besar. Bagaimana tidak, dalam sehari mereka tertawa bersama dalam balutan acara wisuda. Esoknya mereka menjadi musuh dalam pencarian kerja. Ya, itulah kenyataannya.

Dan kalau dihitung, perbandingan lapangan kerja dan jumlah lulusan sarjana tentu sangat abnormal. Bahkan tergolong cadas. Lowongan CPNS adalah salah satu harapan yang sangat tertanam dibenak para sarjana muda. Itupun sangat mengiris hati, dari ribuan pendaftar, hanya diambil beberapa puluh saja. Pasti Anda juga tahu itu kan? Atau mungkin anda termasuk dari mereka? Hehe. Damai bung, saya cuma ngetik apa yang sedang ada di pikiran saya. Kalo berkenan tinggalkan komentar ya…

Artikel ini untuk semua mahasiswa di Indonesia, baik yang sudah lulus maupun yang masih dalam proses kuliah. Semoga ilmu Anda bermanfaat bagi masyarakat. Semoga Anda tidak terpaku pada CPNS saja. Semoga Anda bisa menggunakan ilmu kuliah Anda untuk wirausaha. Semoga Indonesia semakin maju dengan dukungan Anda.

Dan juga, tentu untuk para siswa SMA/MA/SMK yang baru lulus, yang lagi cari kerja, atau yang masih dalam proses belajar. Tentunya agar kita semua tidak hanya berpaku pada keinginan atau gengsi untuk kuliah. Marilah kita belajar untuk berwirausaha, wiraswasta, atau sekedar belajar dari wirausahawan maupun wiraswastawan. Setidaknya, masa depan wirausaha masih terbuka luas.

Tidak ada komentar: